Minggu, 30 November 2008

Seribuku, seribumu

Seorang tukang parkir berkata "mas, seribu mas", tiba-tiba sang pemilik kendaraan mengerutkan keningnya "mas, saya kan cuma sebentar disini, ga sampai 5 menit". Tukang parkir itu diam, tapi dari wajahnya terlihat kalau dia kesal, adu argumen pun terjadi. Tapi akhirnya, sang pemilik kendaraan itu melengos pergi, dengan tetap membayar seribu rupiah, sementara si tukang parkir juga terlihat masih kesal, meskipun ia menerima juga uang seribu rupiah itu.

Di lain kesempatan, di sebuah pelataran parkir di Palembang, sebuah tempat yang biasa dijadikan tempat untuk belajar menyetir mobil, terlihat seorang bapak-bapak yang menggenggam beberapa potongan kertas. Terlihat di potongannya dituliskan "Retribusi Tempat Belajar Mobil - Rp 3000", potongan kertas itu terlihat cukup tua dan buram, dengan hasil print-out yang kusam, kalau orang melihatnya, pasti berpikiran kertas itu digunakan untuk melegalkan sejenis pungutan liar. Bapak pemilik kertas-kertas tersebut kemudian menghampiri seorang pemuda yang sedang belajar mobil, yang masih menyetir mobilnya dalam keadaan lambat, bapak itu kemudian memberhentikan mobil itu,
"dek, 3000 rupiah, administrasi untuk belajar mobil disini".
Pemuda itu mengernyitkan dahinya,
"lho, kok ada pungutan pak? setau saya ini baru nih ada kayak ginian"
"ini untuk biaya pemeliharaan daerah ini dek"
"setau saya, dari dulu-dulu ga ada yang kayak ginian pak, lagian saya udah bayar karcis masuk kok, 2000 rupiah"
"yang itu untuk karcis masuk dek, nah adek kan sedang belajar mobil disini, kalo untuk belajar mobil ada tambahan biaya lagi"
"waduh pak, saya udah sering belajar disini, baru seminggu yang lalu disini, kok tiba-tiba ada pungutan kayak gini?"
"kalau adek dak percaya, mari kita ke kantor dek, itu kantornya disana, ini untuk biaya pemeliharaan dek"
Bapak itu menunjukkan sebuah ruangan diseberang, ruangan itu tidak terlihat seperti kantor, pemuda itu terheran-heran.
"ya udah pak, saya ga punya 3000 pak, saya punya 1000, nih pak, mau ambil, ga mau ya sudah saya pergi dari sini"
"biayanya 3000 dek"
Bapak itu tetap ngotot dengan 3000 rupiah, dan si pemuda tetap ngotot dengan 1000 rupiah. Akhirnya, pemuda itu membayar 1000 rupiah tanpa mendapatkan kertas yang disebut bapak itu sebagai karcis belajar mobil, dan si bapak itu harus puas hanya memperoleh uang 1000 rupiah. Si pemuda tadi melanjutkan belajar mobil, dan si bapak tadi masih tetap memungut biaya dari tiap-tiap orang yang belajar mobil disana.

Kasus lain, seorang wanita baru keluar dari mall di sebuah kota besar, terlihat ia menenteng kantong yang "bermerk", tiba-tiba seorang pengemis menghampirinya, apa yang dilakukan wanita itu? Dengan cepat ia masuk ke taksi yang sudah menunggunya, tanpa memperdulikan pengemis tadi.
Apa yang anda pikirkan? Semoga anda berpikir kalau wanita itu bukannya tidak ingin memberi sedikitpun uangnya untuk pengemis tadi, tapi berpikir kalau wanita itu tak punya uang seribuan untuk memberi pengemis tadi...

Berbeda dengan seorang ibu-ibu yang baru keluar dari pasar, sambil menenteng kantong kresek berisi sayuran dan lauk-pauk, ia sibuk memeriksa dompetnya, dengan mulut yang manyun, berharap menemukan uang receh dan uang seribuan. Untuk apa? Untuk ongkos mobil angkot, karena ibu tadi tak mampu naik taksi...

Kemudian ada juga seorang anak kecil, hatinya riang gembira setelah pulang sekolah, sambil memegang uang seribu rupiah, menuju warung kesayangannya. Anak itu ingin membeli penganan kesukaannya, dengan seribu rupiah yang ia pegang.

Lihat mangkok kecil pengemis yang kakinya buntung yang duduk di tengah jembatan penyeberangan, lihatlah isinya, ada berapa lembar uang seribu rupiah?

Seribu rupiah...tergantung dari sudut pandang yang bagaimana kita melihat seribu rupiah. Memang, seribu tetaplah seribu, tapi orang-orang berbeda pandangan terhadap seribu rupiah tadi. Orang yang baru belanja banyak menganggap seribu rupiah adalah uang kembalian, orang kaya yang punya kartu kredit menganggap seribu rupiah hanya memberatkan mereka, hingga terkadang mereka membuang uang itu begitu saja, anak-anak SD menganggap seribu rupiah adalah uang jajan mereka sehari dan tabungan mereka, sopir angkot menganggap uang seribu rupiah adalah upah mereka, tukang parkir menganggap seribu rupiah adalah penghasilan mereka, pengemis menganggap seribu rupiah adalah rejeki mereka yang tak ternilai.

Saya rasa, yang membaca ini kebanyakan menganggap seribu adalah uang kembalian, atau merupakan uang kecil yang hanya berfungsi sebagai pelengkap. Kita dan saya khususnya, terbiasa mendapatkan gaji dengan pecahan uang Rp 50.000, terkadang uang seribu itu tidak saya perdulikan, terkadang uang seribu itu tak tahu dimana saya letakkan. Uang seribu itu kadang masih terselip di kantong celana, dan kemudian akhirnya ikut tercuci atau hilang entag dimana.

Bukan, bukan saya mengajarkan untuk kikir, bukan saya menulis agar anda takut kehilangan seribu rupiah anda. Tapi sedikit saja, hargailah seribu anda, mungkin bagi anda seribu rupiah adalah hal yang tak terlalu berharga, tapi bagi sebagian orang, seribu rupiah adalah nyawa mereka, penghasilan mereka, uang mereka untuk hari itu.

Tak perlu lagi ada kejadian seperti 2 cerita teratas tadi, hingga anda perlu berdebat dan cemberut hanya karena seribu rupiah. Anda kesal hanya seribu rupiah, tak perlu lagi. Seribu rupiah itu untuk penghasilan mereka, jika anda tak bisa memberi penghasilan besar pada orang lain, maka seribu rupiah itu sudah cukup.
Alangkah baiknya jika anda memberikan uang seribu rupiah itu, tanpa didasari rasa kesal. Hanya karena seribu rupiah, dan anda mengotori hati anda. Dan baik sekali jika anda memberikan uang seribu rupiah tadi dengan disertai senyuman dan doa',
"ya Alloh berikanlah mereka rezeki yang layak, hingga mereka bisa hidup berkecukupan kelak nantinya, hingga nanti mereka tak perlu lagi untuk seperti ini"

kira-kira, apa yang anda anggap dari seribu anda?

Seribu-ku, seribumu
sama sama seribu
tapi jangan karena seribu, hatimu menipu
jangan hanya karena seribu, kau malu didepan Tuhanmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar