Motorku memang motor baru, 125 cc, pokoknya masih mantap buat dibuat ngebut. Sering saya iseng-iseng untuk ngebut diatas 60 km/jam didalam kota, dalam keadaan yang sedikit sepi tentunya. Sebuah hal yang bodoh, saya sadar itu, seolah-olah merasa hebat, seolah-olah merasa paling cepat, dan itu secara tidak sadar dan terlebih lagi, secara amat sadar saya lakukan. Saya kemudian mencoba memperbaiki cara berkendara saya, menahan kecepatan untuk tetap selalu berada dibawah 40 km/jam didalam kota. Saya sadar, saya seorang laki-laki, seorang pria, kendaraan adalah suatu hal yang bisa membanggakan seorang pria, maka ketika berada diatas kendaraan, untuk menahan diri itu adalah hal yang sulit....ada semacam dorongan, saat disalip, saat melihat jalanan sepi, saat kesal, saat amarah, rasanya motor itu ingin kupacu secepat-cepatnya, saya tak ingin dianggap bermotor seperti kura-kura!!! Sesulitkah itu bagi seorang pria untuk menahan dorongan untuk ngebut didalam dirinya?
Minggu kemarin, saya sedang dihinggapi rasa jenuh yang luar biasa, rasa suntuk yang amat sangat. Disaat itu, yang terlintas didalam pikiran ini adalah, ambil motor, keluar, dan jalan-jalan, sambil sekalian ngebut sedikit. Tapi saat keluar rumah, entah kenapa saya cuma ingin memacu motor dengan kecepatan standar, saya jenuh dengan ngebut, toh saya juga tak punya tujuan hendak kemana, saya cuma ingin berjalan-jalan.
Saya coba di kecepatan 10 km/jam, sulit, terlalu lambat, belum 1 km saya sudah merasa bosan, kemudian saya coba patok kecepatan saya di 30 km/jam, lambat, benar-benar lambat, kayak kura-kura. Satu motor menyalip saya, setelah sebelumnya ribut mengklakson dari belakang, anak muda....saya kesal, ingin saya kejar, tapi.....apalah gunanya? Membuktikan siapa yang tercepat, atau bahkan membalas dendam karena disalip hanya akan mengurangi keasyikan jalan-jalan saya, saya ingin jalan-jalan!!! bukan balapan!!!
Biarlah dia bangga dengan kecepatannya, biarlah ia merasakan nikmatnya jiwa muda, biarkan dia menganggap saya seorang kura-kura....sedangkan saya? biarkan saya menikmati jalan-jalan saya, biarkan saya menikmati kecepatan lambat saya, biarkan saya dengan motor saya....
Ternyata dengan kecepatan seperti itu, ada banyak yang dapat saya lihat, banyak yang saya rasakan. Selain itu, ada rasa aman, ada rasa tenang, meskipun disalip berkali-kali, meskipun dianggap sebagai orang yang bodoh.
Aih-aih...dalam perenungan diatas motor dengan kecepatan kura-kura itu, saya jadi terpikir sebuah filosofi sederhana, sebuah analogi. Hidup adalah perjalanan, entah siapa yang bilang seperti itu. Kemudian dengan apakah kita berjalan-jalan itu? Dengan kakikah? Dengan motorkah? Dengan pesawatkah? Atau malah terbang? Tergantung pilihan masing-masing...
Begitu juga dengan kecepatan yang kita inginkan, apakah anda ingin hidup dengan kecepatan 60 km/jam, ataukah dengan 10 km/jam, ataukah anda ingin berjalan kaki, semuanya terserah pada diri masing-masing.
Cuma......begitu kita hidup dengan kecepatan tinggi, adrenalin kita dipacu, emosi kita meluap, kita terburu-buru, membuat kita tidak awas dengan sekeliling kita, membuat kita tak memperhatikan sekeliling kita, saya rasa itulah hidup bagi kita saat kita dikejar-kejar dan berkejar-kejaran dengan pekerjaan, saat kita selalu sibuk, saat kita hanya berorientasi pada sebuah kecepatan, sebuah materi, sebuah tujuan. Disaat itu semua perasaan bergejolak, sedikit saja orang mendahului kita, langsung terpacu untuk lebih cepat lagi.
Salah? Sama sekali tidak, bagi saya, hal itu tidak salah, cuma ketika itu dilakukan terus menerus, saya yakin kalau saya akan kehilangan sensitifitas akan lingkungan saya, saya seolah tak merasakan apapun, yang saya lihat hanya jalan dan pengendara yang lain, saya takkan sempat melihat bagaimana angin meniup rambut saya, saya takkan sempat melihat bagaimana rumah-rumah yang saya lewati ternyata sudah berubah strukturnya, saya akan melewatkan banyak hal, dan lama kelamaan saya akan merasa bodoh sendiri, dan sendirian merasa bodoh....
Tapi, jika dengan kecepatan 10 km/jam, saya terlalu lambat, saya akan merasa bosan, suntuk dengan hidup, lemah, tak ada gairah, lama sampai tujuan, meskipun selamat, intinya dengan kecepatan segitu, saya hanya berangan-angan dengan tujuan saya.
Saya tak tahu apakah kita bisa menyesuaikan kecepatan hidup kita seperti kita mengendarai motor, karena kita tak tahu sampai dimana batas umur kita, tapi setidaknya dalam hal melakukan sesuatu, saya yakin kita bisa menyesuaikannya. Cuma kadang kita tak tahu kapan kita harus menyesuaikan kecepatan. Ada kalanya saat kita suntuk, kita malah ingin ngebut, yang berakibat justru malah hal itu akan membawa petaka pada kita.
Kalau kata Bayu Gawtama, berhentilah sejenak, maka saya modif sedikit perkataannya, melambatlah sejenak, jika selama ini kita terlalu cepat, maka ada baiknya sedikit melambat. Banyak yang menyalip memang, tapi bukankah tujuan sudah jelas? Jangan sampai demi cepatnya tujuan tercapai, dan agar tidak didahului oleh siapapun, sebuah proses ke tujuan tersebut tidak kita nikmati sama sekali, sebuah pelajaran dari tujuan itu bukankah terletak pada prosesnya? Jangan sampai karena orang lain menyalip, lebih maju, lebih cepat, kita jadi kehilangan sebuah esensi penting dari sebuah perjalanan.
Jika selama ini kita terbiasa dengan kecepatan 40 km/jam lebih, bahkan mungkin 60 km/jam, maka ada baiknya kita sedikit melambat, paling tidak 30 km/jam. Dengan kecepatan seperti itu, kita bisa lebih memperhatikan sekeliling kita, melihat lebih jelas dan detail, menikmati putaran roda dan perjalanan yang kita lakukan, meredakan ketegangan dan berlatih untuk bersabar.
Yah...cuma sedikit filosofi dari orang yang tidak mengerti sama sekali tentang filosofi, jadi harap mengerti jika anda yang membaca sama sekali tidak mengerti apa yang saya coba bacakan kepada anda (belibet ya? hehehe). Maklum, dapet ilhamnya diatas motor, pas lagi jalan-jalan, bukan dari melihat alam, merasakan angin, memandang matahari tenggelam, dan segala macam hal melo2 nan romantis lainnya.
Intinya teman,
hidup ini bukan hanya masalah kecepatan...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar