Minggu, 30 November 2008

Seribuku, seribumu

Seorang tukang parkir berkata "mas, seribu mas", tiba-tiba sang pemilik kendaraan mengerutkan keningnya "mas, saya kan cuma sebentar disini, ga sampai 5 menit". Tukang parkir itu diam, tapi dari wajahnya terlihat kalau dia kesal, adu argumen pun terjadi. Tapi akhirnya, sang pemilik kendaraan itu melengos pergi, dengan tetap membayar seribu rupiah, sementara si tukang parkir juga terlihat masih kesal, meskipun ia menerima juga uang seribu rupiah itu.

Di lain kesempatan, di sebuah pelataran parkir di Palembang, sebuah tempat yang biasa dijadikan tempat untuk belajar menyetir mobil, terlihat seorang bapak-bapak yang menggenggam beberapa potongan kertas. Terlihat di potongannya dituliskan "Retribusi Tempat Belajar Mobil - Rp 3000", potongan kertas itu terlihat cukup tua dan buram, dengan hasil print-out yang kusam, kalau orang melihatnya, pasti berpikiran kertas itu digunakan untuk melegalkan sejenis pungutan liar. Bapak pemilik kertas-kertas tersebut kemudian menghampiri seorang pemuda yang sedang belajar mobil, yang masih menyetir mobilnya dalam keadaan lambat, bapak itu kemudian memberhentikan mobil itu,
"dek, 3000 rupiah, administrasi untuk belajar mobil disini".
Pemuda itu mengernyitkan dahinya,
"lho, kok ada pungutan pak? setau saya ini baru nih ada kayak ginian"
"ini untuk biaya pemeliharaan daerah ini dek"
"setau saya, dari dulu-dulu ga ada yang kayak ginian pak, lagian saya udah bayar karcis masuk kok, 2000 rupiah"
"yang itu untuk karcis masuk dek, nah adek kan sedang belajar mobil disini, kalo untuk belajar mobil ada tambahan biaya lagi"
"waduh pak, saya udah sering belajar disini, baru seminggu yang lalu disini, kok tiba-tiba ada pungutan kayak gini?"
"kalau adek dak percaya, mari kita ke kantor dek, itu kantornya disana, ini untuk biaya pemeliharaan dek"
Bapak itu menunjukkan sebuah ruangan diseberang, ruangan itu tidak terlihat seperti kantor, pemuda itu terheran-heran.
"ya udah pak, saya ga punya 3000 pak, saya punya 1000, nih pak, mau ambil, ga mau ya sudah saya pergi dari sini"
"biayanya 3000 dek"
Bapak itu tetap ngotot dengan 3000 rupiah, dan si pemuda tetap ngotot dengan 1000 rupiah. Akhirnya, pemuda itu membayar 1000 rupiah tanpa mendapatkan kertas yang disebut bapak itu sebagai karcis belajar mobil, dan si bapak itu harus puas hanya memperoleh uang 1000 rupiah. Si pemuda tadi melanjutkan belajar mobil, dan si bapak tadi masih tetap memungut biaya dari tiap-tiap orang yang belajar mobil disana.

Kasus lain, seorang wanita baru keluar dari mall di sebuah kota besar, terlihat ia menenteng kantong yang "bermerk", tiba-tiba seorang pengemis menghampirinya, apa yang dilakukan wanita itu? Dengan cepat ia masuk ke taksi yang sudah menunggunya, tanpa memperdulikan pengemis tadi.
Apa yang anda pikirkan? Semoga anda berpikir kalau wanita itu bukannya tidak ingin memberi sedikitpun uangnya untuk pengemis tadi, tapi berpikir kalau wanita itu tak punya uang seribuan untuk memberi pengemis tadi...

Berbeda dengan seorang ibu-ibu yang baru keluar dari pasar, sambil menenteng kantong kresek berisi sayuran dan lauk-pauk, ia sibuk memeriksa dompetnya, dengan mulut yang manyun, berharap menemukan uang receh dan uang seribuan. Untuk apa? Untuk ongkos mobil angkot, karena ibu tadi tak mampu naik taksi...

Kemudian ada juga seorang anak kecil, hatinya riang gembira setelah pulang sekolah, sambil memegang uang seribu rupiah, menuju warung kesayangannya. Anak itu ingin membeli penganan kesukaannya, dengan seribu rupiah yang ia pegang.

Lihat mangkok kecil pengemis yang kakinya buntung yang duduk di tengah jembatan penyeberangan, lihatlah isinya, ada berapa lembar uang seribu rupiah?

Seribu rupiah...tergantung dari sudut pandang yang bagaimana kita melihat seribu rupiah. Memang, seribu tetaplah seribu, tapi orang-orang berbeda pandangan terhadap seribu rupiah tadi. Orang yang baru belanja banyak menganggap seribu rupiah adalah uang kembalian, orang kaya yang punya kartu kredit menganggap seribu rupiah hanya memberatkan mereka, hingga terkadang mereka membuang uang itu begitu saja, anak-anak SD menganggap seribu rupiah adalah uang jajan mereka sehari dan tabungan mereka, sopir angkot menganggap uang seribu rupiah adalah upah mereka, tukang parkir menganggap seribu rupiah adalah penghasilan mereka, pengemis menganggap seribu rupiah adalah rejeki mereka yang tak ternilai.

Saya rasa, yang membaca ini kebanyakan menganggap seribu adalah uang kembalian, atau merupakan uang kecil yang hanya berfungsi sebagai pelengkap. Kita dan saya khususnya, terbiasa mendapatkan gaji dengan pecahan uang Rp 50.000, terkadang uang seribu itu tidak saya perdulikan, terkadang uang seribu itu tak tahu dimana saya letakkan. Uang seribu itu kadang masih terselip di kantong celana, dan kemudian akhirnya ikut tercuci atau hilang entag dimana.

Bukan, bukan saya mengajarkan untuk kikir, bukan saya menulis agar anda takut kehilangan seribu rupiah anda. Tapi sedikit saja, hargailah seribu anda, mungkin bagi anda seribu rupiah adalah hal yang tak terlalu berharga, tapi bagi sebagian orang, seribu rupiah adalah nyawa mereka, penghasilan mereka, uang mereka untuk hari itu.

Tak perlu lagi ada kejadian seperti 2 cerita teratas tadi, hingga anda perlu berdebat dan cemberut hanya karena seribu rupiah. Anda kesal hanya seribu rupiah, tak perlu lagi. Seribu rupiah itu untuk penghasilan mereka, jika anda tak bisa memberi penghasilan besar pada orang lain, maka seribu rupiah itu sudah cukup.
Alangkah baiknya jika anda memberikan uang seribu rupiah itu, tanpa didasari rasa kesal. Hanya karena seribu rupiah, dan anda mengotori hati anda. Dan baik sekali jika anda memberikan uang seribu rupiah tadi dengan disertai senyuman dan doa',
"ya Alloh berikanlah mereka rezeki yang layak, hingga mereka bisa hidup berkecukupan kelak nantinya, hingga nanti mereka tak perlu lagi untuk seperti ini"

kira-kira, apa yang anda anggap dari seribu anda?

Seribu-ku, seribumu
sama sama seribu
tapi jangan karena seribu, hatimu menipu
jangan hanya karena seribu, kau malu didepan Tuhanmu

Sabtu, 29 November 2008

Hidup bukan masalah kecepatan

Motorku memang motor baru, 125 cc, pokoknya masih mantap buat dibuat ngebut. Sering saya iseng-iseng untuk ngebut diatas 60 km/jam didalam kota, dalam keadaan yang sedikit sepi tentunya. Sebuah hal yang bodoh, saya sadar itu, seolah-olah merasa hebat, seolah-olah merasa paling cepat, dan itu secara tidak sadar dan terlebih lagi, secara amat sadar saya lakukan. Saya kemudian mencoba memperbaiki cara berkendara saya, menahan kecepatan untuk tetap selalu berada dibawah 40 km/jam didalam kota. Saya sadar, saya seorang laki-laki, seorang pria, kendaraan adalah suatu hal yang bisa membanggakan seorang pria, maka ketika berada diatas kendaraan, untuk menahan diri itu adalah hal yang sulit....ada semacam dorongan, saat disalip, saat melihat jalanan sepi, saat kesal, saat amarah, rasanya motor itu ingin kupacu secepat-cepatnya, saya tak ingin dianggap bermotor seperti kura-kura!!! Sesulitkah itu bagi seorang pria untuk menahan dorongan untuk ngebut didalam dirinya?

Minggu kemarin, saya sedang dihinggapi rasa jenuh yang luar biasa, rasa suntuk yang amat sangat. Disaat itu, yang terlintas didalam pikiran ini adalah, ambil motor, keluar, dan jalan-jalan, sambil sekalian ngebut sedikit. Tapi saat keluar rumah, entah kenapa saya cuma ingin memacu motor dengan kecepatan standar, saya jenuh dengan ngebut, toh saya juga tak punya tujuan hendak kemana, saya cuma ingin berjalan-jalan.

Saya coba di kecepatan 10 km/jam, sulit, terlalu lambat, belum 1 km saya sudah merasa bosan, kemudian saya coba patok kecepatan saya di 30 km/jam, lambat, benar-benar lambat, kayak kura-kura. Satu motor menyalip saya, setelah sebelumnya ribut mengklakson dari belakang, anak muda....saya kesal, ingin saya kejar, tapi.....apalah gunanya? Membuktikan siapa yang tercepat, atau bahkan membalas dendam karena disalip hanya akan mengurangi keasyikan jalan-jalan saya, saya ingin jalan-jalan!!! bukan balapan!!!
Biarlah dia bangga dengan kecepatannya, biarlah ia merasakan nikmatnya jiwa muda, biarkan dia menganggap saya seorang kura-kura....sedangkan saya? biarkan saya menikmati jalan-jalan saya, biarkan saya menikmati kecepatan lambat saya, biarkan saya dengan motor saya....

Ternyata dengan kecepatan seperti itu, ada banyak yang dapat saya lihat, banyak yang saya rasakan. Selain itu, ada rasa aman, ada rasa tenang, meskipun disalip berkali-kali, meskipun dianggap sebagai orang yang bodoh.

Aih-aih...dalam perenungan diatas motor dengan kecepatan kura-kura itu, saya jadi terpikir sebuah filosofi sederhana, sebuah analogi. Hidup adalah perjalanan, entah siapa yang bilang seperti itu. Kemudian dengan apakah kita berjalan-jalan itu? Dengan kakikah? Dengan motorkah? Dengan pesawatkah? Atau malah terbang? Tergantung pilihan masing-masing...
Begitu juga dengan kecepatan yang kita inginkan, apakah anda ingin hidup dengan kecepatan 60 km/jam, ataukah dengan 10 km/jam, ataukah anda ingin berjalan kaki, semuanya terserah pada diri masing-masing.

Cuma......begitu kita hidup dengan kecepatan tinggi, adrenalin kita dipacu, emosi kita meluap, kita terburu-buru, membuat kita tidak awas dengan sekeliling kita, membuat kita tak memperhatikan sekeliling kita, saya rasa itulah hidup bagi kita saat kita dikejar-kejar dan berkejar-kejaran dengan pekerjaan, saat kita selalu sibuk, saat kita hanya berorientasi pada sebuah kecepatan, sebuah materi, sebuah tujuan. Disaat itu semua perasaan bergejolak, sedikit saja orang mendahului kita, langsung terpacu untuk lebih cepat lagi.
Salah? Sama sekali tidak, bagi saya, hal itu tidak salah, cuma ketika itu dilakukan terus menerus, saya yakin kalau saya akan kehilangan sensitifitas akan lingkungan saya, saya seolah tak merasakan apapun, yang saya lihat hanya jalan dan pengendara yang lain, saya takkan sempat melihat bagaimana angin meniup rambut saya, saya takkan sempat melihat bagaimana rumah-rumah yang saya lewati ternyata sudah berubah strukturnya, saya akan melewatkan banyak hal, dan lama kelamaan saya akan merasa bodoh sendiri, dan sendirian merasa bodoh....

Tapi, jika dengan kecepatan 10 km/jam, saya terlalu lambat, saya akan merasa bosan, suntuk dengan hidup, lemah, tak ada gairah, lama sampai tujuan, meskipun selamat, intinya dengan kecepatan segitu, saya hanya berangan-angan dengan tujuan saya.

Saya tak tahu apakah kita bisa menyesuaikan kecepatan hidup kita seperti kita mengendarai motor, karena kita tak tahu sampai dimana batas umur kita, tapi setidaknya dalam hal melakukan sesuatu, saya yakin kita bisa menyesuaikannya. Cuma kadang kita tak tahu kapan kita harus menyesuaikan kecepatan. Ada kalanya saat kita suntuk, kita malah ingin ngebut, yang berakibat justru malah hal itu akan membawa petaka pada kita.

Kalau kata Bayu Gawtama, berhentilah sejenak, maka saya modif sedikit perkataannya, melambatlah sejenak, jika selama ini kita terlalu cepat, maka ada baiknya sedikit melambat. Banyak yang menyalip memang, tapi bukankah tujuan sudah jelas? Jangan sampai demi cepatnya tujuan tercapai, dan agar tidak didahului oleh siapapun, sebuah proses ke tujuan tersebut tidak kita nikmati sama sekali, sebuah pelajaran dari tujuan itu bukankah terletak pada prosesnya? Jangan sampai karena orang lain menyalip, lebih maju, lebih cepat, kita jadi kehilangan sebuah esensi penting dari sebuah perjalanan.

Jika selama ini kita terbiasa dengan kecepatan 40 km/jam lebih, bahkan mungkin 60 km/jam, maka ada baiknya kita sedikit melambat, paling tidak 30 km/jam. Dengan kecepatan seperti itu, kita bisa lebih memperhatikan sekeliling kita, melihat lebih jelas dan detail, menikmati putaran roda dan perjalanan yang kita lakukan, meredakan ketegangan dan berlatih untuk bersabar.

Yah...cuma sedikit filosofi dari orang yang tidak mengerti sama sekali tentang filosofi, jadi harap mengerti jika anda yang membaca sama sekali tidak mengerti apa yang saya coba bacakan kepada anda (belibet ya? hehehe). Maklum, dapet ilhamnya diatas motor, pas lagi jalan-jalan, bukan dari melihat alam, merasakan angin, memandang matahari tenggelam, dan segala macam hal melo2 nan romantis lainnya.

Intinya teman,
hidup ini bukan hanya masalah kecepatan...

Kamis, 27 November 2008

Pertanian, membanggakan sekaligus memprihatinkan

Crude Palm Oil (CPO) jadi bahan baku utama media massa saat ini. Harganya drop dipasar internasional sejak pertengahan Oktober, konsekuensinya adalah negara Indonesia yang merupakan produsen CPO terbesar di dunia, jatuh melarat.

Sebenarnya kalau dibilang jatuh melarat, toh negara kita memang sudah melarat dari dulu, mulai dari guru hingga petani, bahkan pelaksana macam saya di Departemen Keuangan pun masih dikategorikan melarat (kalau anggota DPR sih ga bakal melarat). Cuma sekarang yang lebih kena dampaknya adalah para petani, lebih khusus lagi petani sawit. Hampir 75% produksi CPO kita diekspor dalam bentuk mentah, tanpa pengolahan lebih lanjut, jadi komponen utama dalam ekspor ini adalah petani. Bagaimana jika tiba-tiba harganya anjlok jadi hanya 10% dari yang dulu? (ini sih bukan "jika", tapi sudah kejadian yang sebenarnya). Setelah sebelumnya petani sawit bisa mendapat 4 juta per bulan, sekarang cuma 440 ribu, bagaimana mereka bisa mengatur keuangan mereka?

Itulah petani, apalagi untuk sektor-sektor yang amat bergantung dengan ekspor seperti sawit, karet, kakao, kedelai dam lain-lain, hidup mereka tergantung pada negara lain, sejauhmana negara lain mampu dan akan membeli hasil mereka.

Bagi para petani, ekspor adalah hal yang membanggakan, kakek saya pernah bicara pada saya, bahwa petani amat bangga jika hasil pertanian mereka ternyata diekspor ke negara lain, ada gengsi yang tersirat disana, selain tentunya harga yang lebih mahal. Hal itu sudah tertanam dari dulu, bahwa jika diekspor, mereka lebih untung daripada dijual ke bangsa sendiri.

Dan pemerintah kita juga terlena akan hal tersebut, bukannya malah meningkatkan tingkat industri menengah dan lanjut dari hasil pertanian mentah tersebut, tapi justru mendorong untuk ekspor sebanyak-banyaknya. Sejak 10 tahun reformasi, sepertinya tak ada satu presiden pun di negara ini yang memasukkan peningkatan industri pengolahan hasil pertanian didalam rencana kerjanya. Iya, mereka memang memasukkan kata-kata "meningkatkan kesejahteraan petani" didalam janji-janji mereka. Dan dalam realisasi, mungkin para presiden kita sudah berusaha dalam meningkatkan taraf hidup petani, seperti pemberian subsidi bagi para petani, subsidi harga pupuk dan semacamnya. Tapi, bukan itu yang seharusnya dilakukan pemerintah.

Seharusnya pemerintah bisa memberdayakan tingkat produksi pertanian yang tinggi tersebut untuk kemudian dijadikan barang yang punya nilai tambah yang besar. Seperti CPO yang bisa dijadikan minyak goreng, tapi nyatanya setelah kita ekspor CPOnya, kita malah mengimpor minyak goreng, hasil dari pengolahan CPO yang sudah kita ekspor tadi.

Ini memang masalah klasik, agro-industri memang membutuhkan waktu lama dan biaya penelitian yang besar. Tapi kita sudah punya contoh yang baik, pak Fadel Muhammad, mampu membentuk sebuah agroindustri yang baik di propinsi yang dia pimpin, Gorontalo. Pemerintah propinsi disana membeli jagung hasil petani dengan harga yang lebih tinggi dari ekspor, jika satu tongkol jagung diekspor harganya 150, maka pemerintah disana berani membeli dengan harga 300. Artinya, kita sendiri yang beli produksi kita, tanpa perlu bergantung dengan permintaan dan penawaran dari negara lain.

Dalam kasus seperti itu, para petani dalam negeri tak perlu lagi bersaing dengan produk impor. Satu lagi, negara kita masih termasuk negara dengan tingkat impor barang pertanian yang tinggi, bahkan Indonesia adalah negara agraris yang menjadi pengimpor terbesar di dunia (saya pinjam ucapannya pak Fadel). Jadi, hal itu juga yang memacu petani untuk lebih suka mengekspor hasilnya dibanding menjual didalam negeri. Para konsumen dalam negeri pun lebih suka membeli hasil impor karena terbukti lebih murah dan punya kualitas yang hampir sama.

Artinya di satu sisi, kita punya produksi pertanian yang besar, tapi malah kita jual ke negara lain, sementara disisi lain, untuk konsumsi, kita malah menggunakan produk luar yang kita impor dari negara lain. Ironisnya lagi, barang yang sudah kita ekspor tadi, diolah dinegara lain, kemudian dijual lagi di negara kita dengan harga yang lebih mahal.

Di satu sisi membanggakan memang, tapi selanjutnya memprihatinkan. Kita jelas sekali tak punya perencanaan yang jelas dalam pertanian, tak ada road map, mau dikemanakan pertanian kita, apa cuma mau jadi sarana meraup keuntungan dari negara lain? Disaat daya beli negara lain menurun, ekspor kita tak berdaya, nilai jual drop, sementara didalam negeri, harga barang impor semakin tinggi karena kurs meningkat, dan produk dalam negeri, sebagai kompensasi nilai ekspor yang turun, juga ikut-ikutan menaikkan harga jual didalam negeri, agar mereka masih dapat bertahan, ironis.

Apa solusinya?

Yang pasti adalah perubahan mind set dari para petani, bagaimana membuat mereka lebih suka untuk menjual didalam negeri dibandingkan ekspor, atau paling tidak sebanding 50:50. Berarti dalam hal ini pemerintah perlu memberikan insentif pada pasar dalam negeri, juga agar mereka lebih suka mengkonsumsi produk-produk dalam negeri.

Kemudian, menahan impor, kasus beberapa tahun yang lalu saat impor beras, dimana seharusnya negara kita yang surplus beras, malah mengimpor beras, seharusnya tidak perlu terulang kembali. Disini kebijakan fiskal bisa dimainkan, meningkatkan pajak atas impor bisa dilakukan, atau dengan cara membuat regulasi yang menyulitkan perusahaan kita untuk mengimpor barang pertanian.

Selanjutnya adalah meningkatkan agro-industri, bagaimana hasil mentah pertanian tersebut bisa diolah lebih lanjut. Negara kita adalah negara agraris, mengapa kita tidak berkonsentrasi penuh pada pertanian dan industrinya? Hal yang menjadi pertanyaan selama ini. Fokus pemerintah harus dialihkan, selain memberdayakan petani, juga memberdayakan para pelaku industri dari hasil pertanian tersebut. Hampir 90% perkebunan sawit di Sumatera, kegiatan usahanya hanya berkisar pada perkebunan saja, bukan pengolahan. Ini adalah sektor yang seharusnya jadi sumber perhatian utama, produksi yang melimpah tersebut seharusnya bisa jadi keuntungan untuk industri.

Yang terakhir dan tidak kalah pentingnya adalah penelitian. Bagaimana membuat suatu hasil pertanian yang murah sekaligus bagus kualitasnya, hal ini telah dilakukan oleh propinsi Gorontalo. Bagaimana membuat suatu industri pengolahan dalam negeri yang hasilnya dapat bersaing dengan dengan impor produk olahan hasil pertanian.

Semoga saja, dengan turunnya nilai CPO di tingkat dunia, bisa membuka mata pemerintah, bahwa kita sebenarnya di posisi yang amat bergantung pada negara lain, bahkan dengan produksi yang melimpah ruah pun, kita masih saja tergantung dengan lingkungan makro, dengan konsumen kita dari luar negeri
. Dengan begitu pemerintah cepat sadar, bahwa memang agro industri selama ini diabaikan oleh pemerintah, akibatnya disatu sisi pertanian kita membanggakan, tapi disisi lain, memprihatinkan.


penulis adalah orang pajak,
jadi kalau ngomong ngaco soal pertanian harap maklum saja
huehehehehe
:-)

Selasa, 25 November 2008

Terimakasih karena telah bersemangat

Punya teman yang selalu bersemangat? Maka beruntunglah kalian.

Entah kenapa saya suka sekali dengan seseorang yang bersemangat, yang bisa diajak melakukan apa saja, tapi yang positif tentunya. Itu semua karena pada dasarnya saya termasuk orang yang biasa-biasa saja, hingga kadang susah untuk melakukan sesuatu, susah untuk mendorong diri ini untuk beraktifitas.

Jika kita melakukan sesuatu, maka kadangkala kita melihat orang terlebih dahulu, apalagi sesuatu yang baru, kadang kita segan, canggung, niat ada tapi semangat cuma 50%. Maka beruntunglah jika kita dalam keadaan seperti itu, ada seseorang teman dengan semangat yang luar biasa ikut mengajak kita, menjelajah potensi diri, menemukan hal-hal unik dan baru yang belum pernah kita temui atau lakukan.

Tanpa sadar, kita sering merasa canggung untuk bersemangat, diajak untuk melakukan sesuatu tapi kita berkata "kamu dulu saja" atau "ah nanti aja bisa" bahkan berkata "ngapain ngelakuin itu, merepotkan saja". Memang hal itu tergantung pribadi masing-masing, karakter masing-masing, tapi kadang kita bahkan menganggap aneh orang yang bersemangat tersebut, kadang kita merasa heran, kok mau-maunya ia melakukan hal itu.

Tapi teman kita tadi, yang bersemangat tersebut, tetap melakukan hal tersebut, tetap dengan kegigihannya dalam melakukan aktifitasnya, tetap dengan keteguhan hatinya bahwa yang ia kerjakan itu tidaklah sia-sia.

Kita yang terlalu sering menganggap banyak hal yang tidak berguna, padahal kita sendiri melakukan hal yang lebih tidak berguna. Tapi teman kita tersebut secara tidak langsung telah mengajak kita dengan semangatnya. Telah mengajak kita bahwa, semua yang positif itu tidak ada yang tidak berguna jika kita dengan sepenuh hati mengerjakanna, sepenuh hati melakukannya.

Kita yang lesu, malas, melihat teman yang bersemangat tersebut, kadang terpacu untuk juga ikut bersemangat. Tapi kadang kita tidak bisa menghargai semangat itu, kita hanya menganggap itu adalah sebuah hal yang sepele, hingga tidak jarang kita membuat kecewa teman yang bersemangat tersebut, dengan sikap kita yang apatis dan acuh tak acuh.

Saya memang bukan orang yang bersemangat, tapi saya sangat suka melihat orang yang bersemangat, yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hatinya. Yang tidak canggung untuk memulai, yang tidak segan untuk mengerahkan segenap kemampuannya dalam setiap kegiatan yang ia lakukan, itu adalah bukti sebuah totalitas. Dan bahkan saya sering ikut larut dalam semangatnya, ikut terbuai dalam kegigihannya, sehingga saya pun ikut terpacu untuk tetap bersemangat, dan melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati.

Kepada semua teman yang bersemangat, terimakasih !!! Tetap semangat !!!